Cerita Nadiem di Balik Riset Mentransformasi Pendidikan di Indonesia
Cerita Nadiem di Balik Riset Mentransformasi Pendidikan di Indonesia (Meliyanti Setyorini - detikEdu)

By Dr. HM. Dimyati, M.M. 21 Sep 2022, 21:22:46 WIB Pendidikan
Cerita Nadiem di Balik Riset Mentransformasi Pendidikan di Indonesia

Gambar : Foto: Meliyanti S/detikedu


Jakarta - Berangkat dari riset tentang level kompetensi membaca dan berhitung yang rendah di tingkat pelajar Indonesia, Mendikbudristek Nadiem Makarim bertekad untuk mentransformasi sistem pendidikan. Ini kisah di baliknya.
Nadiem mengungkapkan, riset di balik inisiatifnya untuk mentransformasi pendidikan di Indonesia dalam public speaking berjudul "Emancipated Learning: Perspectives and Challenges in Transforming an Education System" di New York University, (16/9/2022) waktu New York.

Riset yang dimaksud adalah riset OECD Programme for International Student Assessment (PISA) yang dipublikasikan pada 2018. Dalam riset tersebut terungkap bahwa ada 70% pelajar berusia di bawah 15 tahun di Indonesia yang memiliki kompetensi membaca dan berhitung di bawah batas minimum. Angka itu sendiri tidak beranjak sejak lama. 

Survei lain dari Willis Towers Watsons (2014-2016) menunjukkan kalau sistem pendidikan juga sulit menciptakan generasi yang siap bekerja. Menurut survey tersebut, empat dari lima perusahaan kesulitan mencari lulusan universitas yang siap bekerja. Itu mendukung survei BPS yang dipublikasikan tahun 2019 tentang tingkat ketenagakerjaan lulusan universitas atau setingkat di bawah 50% selama tiga tahun berturut-turut.
"Waktu di Gojek saya juga mengalami kesulitan ini, susahnya cari lulusan universitas yang siap kerja sesuai kebutuhan kita," tutur Nadiem.
Krisis-krisis SDM tersebutlah yang mendorong Nadiem untuk membuat terobosan-terobosan dalam Merdeka Belajar.
"Untuk private sector, prinsip saya if you don't participate, you have no rights to complain."
"Tapi kita juga tidak datang tanpa penawaran. Misalnya kita sediakan dana untuk proses rekrutmen SDM," kata Nadiem.
"Terima kasih untuk CSR dan filantropi perusahaan tapi Merdeka Belajar bukan itu. Tujuan kami adalah menyelaraskan sistem pendidikan agar sesuai dengan kebutuhan Anda," tutur menteri termuda di kabinet Jokowi ini.
Di tempat yang sama, Staf khusus Mendikbudristek bidang Kompetensi dan Manajemen Pramoda Dei Sudarmo menambahkan, mekanisme partnership dijalankan pada sektor SDM.
"Misalnya buat karyawan magang perusahaan cuma punya dana untuk 15 orang sedangkan kebutuhannya 30. Sisa 15 kita support dananya jadi perusahaan tidak mengeluarkan dana lagi di luar budgetnya," katanya.
"Mitra kita ada Google, Traveloka. Perusahaan besar seperti Microsoft, Astra. Total kita sudah punya lebih dari 200 mitra termasuk UMKM," tutup Dei.

(mel/nwy)




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

Write a comment

Ada 11 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment